Diksi dalam bentuk tulisan seperti hujan halus yang turun tanpa suara, meresap diam-diam ke dalam tanah batin yang retak. Ia tidak mengetuk, tidak meminta izin, tetapi tahu benar celah mana yang harus disinggahi. Huruf-hurufnya menjelma akar-akar kecil yang menjalar pelan, menautkan makna pada ruang-ruang sunyi yang lama tak terjamah. Dari sana, tumbuh rasa yang bahkan tak sempat diberi nama. Kepercayaan yang bersemi tanpa musim, mekar tanpa ditanam, dan menjalar seperti kabut pagi, tipis namun melingkupi segalanya.
Diksi menjadi semacam jembatan tak kasatmata, dibangun dari rapuhnya jeda dan kokohnya makna. Ia melintasi jarak tanpa lelah, menghubungkan dua dunia yang mungkin tak pernah benar-benar bersua. Setiap kalimat adalah pelita kecil yang dinyalakan di lorong-lorong gelap pikiran, mengusir resah dengan cahaya yang lembut, dan terasa hangat, sehangat 'kalau' yang tak mungkin terjadi.
Ada saatnya diksi berubah menjadi laut yang luas, dalam, dan menenangkan. Seseorang bisa tenggelam di dalamnya, bukan untuk hilang, melainkan untuk menemukan bagian dirinya yang lama karam. Gelombangnya bukan riuh, melainkan bisikan yang berulang, mengajak hati untuk percaya bahwa yang jauh pun bisa berasa dekat, bahkan yang tak hadir pun bisa berasa tinggal.
Begitulah, diksi menjelma obat tanpa rupa, menyembuhkan luka yang bahkan tak sempat diucapkan. Ia membius dalam cara yang paling lembut, membuat seseorang merasa dipahami tanpa harus menjelaskan, merasa ditemani tanpa kehadiran. Dan pada akhirnya, dari rangkaian huruf yang tampak biasa itu, lahirlah ketenangan yang tak dibuat-buat. Ketenangan yang jatuh di pelupuk mata, perlahan, pasti, dan menetap lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar