Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk
bertukar pikiran mengenai suatu masalah.
Melalui diskusi, kita dilatih untuk
berpikir kritis dan kreatif, berpikir secara logis dan sistematis serta
menyampaikan gagasan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang baik dan
benar secara lisan. Dengan berdiskusi kita dapat berlatih menggunakan
pengetahuan dan gagasan-gagasan kita untuk menyampaikan pendapat,
mempertahankan pandangan-pandangan, mengatakan setuju atau menolak pandangan
orang lain dengan cara-cara yang baik. Melalui diskusi pula kita dilatih untuk
menghargai orang lain walaupun kita berbeda pendapat atau pandangan. Selain
itu, dalam diskusi juga bisa berlatih
memperkenalkan diri dan orang ini.
2. Pihak yang
terlibat dalam diskusi adalah:
a.Moderator, yaitu orang yang bertugas memimpin diskusi dan
bertanggung jawab atas lancar tidaknya sebuah diskusi. Atau pemimpin sidang (rapat, diskusi) yang
menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau
pendiskusian masalah. Tugasnya adalah
1)Merencanakan dan mempersiapkan dengan
teliti topik yang akan dibahas.
2)Membuka diskusi.
3)Menyampaikan topik dan tujuan diskusi.
4)Memperkenalkan penyaji, sekretaris, dan moerator.
5)Mengendalikan dan mengatur jalannya diskusi.
6)Menyimpulkan hasil diskusi, mengucapkan kepada hadirin,
dan memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pelaksanaan diskusi.
7)Menutup diskusi.
b.Sekretaris, yaitu petugas yang mencatat jalannya diskusi dari awal
hingga berakhirnya diskusi.
c.Penyaji, yaitu orang yang bertugas menyampaikan materi diskusi
secara sistematis, mudah dipahami, terbuka, objektif, dan tidak menyinggung
perasaan dalam meninjau suatu permasalahan.
d.Peserta, yaitu orang yang berperan aktif dalam dalam diskusi
dengan memberikan saran, pendapat, atau sanggahan yang sesuai dengan tema
diskusi.
3. Memperkenalkan Diri dalam Diskusi
Dalam sebuah diskusi atau seminar, pasti
terdapat sesi perkenalan yang biasanya dimulai tepat sebelum seorang pembicara mulai
mempresentasikan makalahnya. Berikut ini sebuah contoh bagaimana memperkenalkan
seorang pembicara pada saat seminar atau diskusi yang dilakukan oleh pembawa
acara seminar.
Berikut ini adalah
Bapak Sutardji Calzoum Bachri, beliau lahir di Rengat (Riau) pada tanggal 24
Juni 1941. Pendidikan terakhirnya Jurusan Administrasi Negara Fakultas Sosial
dan Politik Universitas Padjadjaran (sampai tingkat doktoral). Beliau pernah
mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, di Iowa City, AS
pada tahun 1974-1975 dan Festival Penyair International di Rotterdam Belanda
pada tahun 1975. Sejak 1979, beliau menjabat sebagai redaktur di majalah budaya
Horison. Pada kesempatan seminar kali ini beliau akan mencoba membawa kita
semua untuk berpikir tentang masa depan para pelaku komunikasi sehubungan dengan
munculnya RUU tentang penyiaran yang konon kabarnya sedikit kontroversial.
Untuk memperkenalkan diri, Anda juga harus
memperhatikan kedudukan Anda, atau sebagai apa Anda di dalam seminar tersebut. Jika
Anda berperan sebagai peserta, akan sangat berbeda dengan seorang yang berperan
sebagai moderator saat memperkenalkan diri dalam sebuah seminar.
Berikut ini adalah contoh perkenalan dari seorang
moderator yang akan memimpin jalannya diskusi. ...
Selamat pagi Bapak
Ibu sekalian. Perkenalkan nama saya Yogie, pada kesempatan kali ini saya akan
memimpin seminar ini dari awal, pertengahan, hingga akhir. Tidak banyak yang dapat
saya ceritakan tentang diri saya kecuali seperti yang telah diutarakan oleh
pembawa acara di muka ....
Perhatikan contoh di bawah ini!
Penyalahgunaan Narkoba di Lingkungan Remaja
Moderator : “Demikianlah
pokok pikiran yang disampaikan pembicara melalui makalah yang berjudul
“Penyalahgunaan Narkoba di Lingkungan Remaja”. Saudara-saudara, pada kesempatan
ini saya membuka termin I untuk tiga orang penanya atau penanggap.
Perkenalkanlah diri terlebih dahulu
sebelum mengungkapkan pendapat, silakan!”
Peserta:
“Nama saya Yoga Bagas. Saya sangat tertarik
dengan uraian saudara pembicara. Namun, saya kurang sependapat dengan
pernyataan Pembicara bahwa penyebab penyalahgunaan narkoba adalah faktor
lingkungan pergaulan remaja saja. Menurut saya penyebab penyalahgunaan narkoba
meliputi faktor keluarga dan lingkungan,
karena keluarga merupakan faktor pembentukan kepribadian anak.”
Moderator: ”Terima
kasih, penanggap kedua kami persilakan.”
Peserta:
”Nama saya Annisa. Terima kasih atas
kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya sependapat dengan saudara Teguh.
Kita tidak boleh memposisikan faktor lingkungan pergaulan remaja sebagai faktor
tunggal penyebab penyalahgunaan narkoba dalam diri remaja. Meskipun faktor itu memang
sangat berpengaruh. Namun apabila remaja ditanamkan nilai-nilai keutamaan,
moral, etika, dan agama yang kuat terutama dalam lingkungan keluarga saja dan
terus-menerus diberi teladan tingkah laku orang tuanya yang baik, maka ia akan
menolak pengaruh lingkungan pergaulan yang negatif termasuk penyalahgunaan
narkoba.”
Moderator : ”Ya,
terima kasih saudara Annisa. Selanjutnya, penanya ketiga kami persilakan.”
Peserta : ”Nama saya
Aulia. Saya hanya akan melengkapi pendapat saudara-saudara tadi. Menurut saya, yang
terpenting bagaimana mengatasi masalah tersebut sehingga remaja tidak
terjerumus dalam tindakan tersebut. Menurut saya, pertama-tama, keluarga harus
memberikan teladan dan menanamkan nilai moral dan agama yang kuat, masyarakat ikut
mengawasi dan bekerja sama dengan aparat kepolisian memberantas penyalahgunaan narkoba,
dan pemerintah menerapkan hukuman yang berat kepada pengedar dan pengguna narkoba.”
Moderator: ”Demikianlah saudara-saudara, termin I telah selesai.
Selanjutnya, saya persilakan para panelis untuk menanggapi pernyataan atau
pertanyaan dari para peserta tersebut. Silakan!”
................
Tugas
1. Bentuklah kelompok
diskusi, tiap kelompok terdiri atas 4-8 siswa, kemudian ikuti dan kerjakan langkah-llangkah
berikut!
a.Pilihlah tema yang menarik, faktual dan aktual kemudian buatlah makalahnya!
b.Pilihlah salah seorang dalam kelompokmu untuk memimpin.
c.Diskusikan malakah yang kalian buat!
d.Setelah diskusi kelompok selesai kemudian diskusikan di muka kelas. Kelompok yang
lain memberikan tanggapan!
e.Praktikkan cara memperkenalkan diri dan memberikan tanggapan
yang baik dalam diskus
f.Carilah materi diskusi
lain yang aktual dan faktual sebagai bahan diskusi!
Aku rutin mengantar suami periksa atau terapi TMS di RSU. Semua harus disyukuri. Banyak orang yang sakitnya jauh lebih parah daripada sumiku. Berjalan dengan teratih-tatih, memakai kursi roda, bahkan ada juga yang harus memakai bed dan didorong oleh perawat atau keluarganya. Sebuah pemandangan, yang akhirnya biasa kami lihat.
Di balik itu semua, setiap kami periksa, mengambil obat, atau terapi selalu saja ada yang berbaik hati mempermudah dan mempercepat urusan kami. Bukan hanya mantan siswa-siswaku, teman, atau tetangga yang kebetulan banyak bekerja di sana. Dari orang yang belum kami kenal pun mereka membantu kami.
Tadi pagi pun demikian. Begitu datang akan terapi, ada seorang ibu yang berusia sekitar 60 tahun, memberikan nomor antrean padaku. Alhamdulillah, kami yang harusnya mendapat nomor pendaftaran 75 diberi nomor pendaftaran 45.
Dan seperti itu sering terjadi, baik antre terapi, periksa, maupun obat. Alhamdulillah. Barokallah.
Ada tiga hal yang harus dipersiapkan sebelum orang berbicara, yaitu persiapan diri, persiapan materi, dan persiapan pendukung. Persiapan diri berkaitan dengan kondisi jasmani dan rohani pembicara, persiapan materi berkaitan dengan materi atau bahan pembicaraan yang akan disampaikan, dan persiapan pendukung mencakupi persiapan ilmu, persiapan vokal, dan persiapan bahasa.
Persiapan-persiapan tersebut akan menentukan berhasil-tidaknya seseorang dalam berbicara. Pembicara yang kurang persiapan tentu akan mengalami kegagalan dalam berbicara. Pembicara yang kurang persiapan materi, misalnya, akan (1) terlalu cepat mengakhiri pembicaraan, (2) penyapaian pembicaraan terputus-putus atau tidak runtut, dan (3) kalau terjadi dialog pembicara akan kewalahan menjawab pertanyaan.
Seorang ahli retorika, Natalie Rogersmengungkapkan bahwa kunci keberhasilan berbicara ada pada keyakinan diri dan pelatihan. Keyakinan diri menyangkut kemauan dan kesungguhan, sedangkan pelatihan menyangkut pengasahan keterampilan. Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa keahlian yang harus ditumbuhkan agar seseorang mampu tampil di depan publik secara baik. Keahlian yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(1)Keahlian menutup diri
Keahlian ini menyangkut kemampuan menutup semua pikran atau rangsangan negatif yang datang dari pendengar. Dengan demikian seorang pembicara akan dapat secara mantap melanjutkan pembicaraannya.
(2)Keahlian berkonsentrasi
Keahlian ini menyangkut kemampuan mengendalikan semua pikiran, ingatan, dan imajinasi untuk memusatkan perhatian pada pembicaraan.
(3)Keahlian koordinasi
Keahlian ini menyangkut kemampuan bergerak dengan mudah dan menggunakan berbagai bentuk isyarat untuk menyatakan perasaan.
(4)Keahlian mengendalikan diri
Keahlian ini menyangkut kemampuan mengontrol gerakan-gerakan yang tidak terkendali, seperti menggerak-gerakkan tangan secara berlebihan, menganggukkan kepala, menggoyangkan badan, berpindah dari satu kaki ke kaki yang lain, atau mengontrol tubuh yang gemetar.
(5)Keahlian mengendalikan emosi
Keahlian ini menyangkut kemampuan mengendalikan dan mengurangi rasa cemas,
panik, dan takut.
(6)Keahlian mereaksi
Keahlian ini menyangkut kemampuan menanggapi pertanyaan, gangguan, selingan, dan kejadian-kejadian yang tidak direncanakan secara tenang dan nyaman.
(7)Keahlian menumbuhkan kehangatan
Keahlian ini menyangkut kemampuan bersikap cukup rileks, sehingga bisa menyisipkan sedikit humor, kepedulian, dan kesungguhan ke dalam pidato.
(8)Keahlian menumbuhkan kharisma
Keahlian ini menyangkut kemampuan memunculkan gambaran diri yang mantap dan terpuji.
(9)Keahlian berpikir spontan
Keahlian ini menyangkut kemampuan menghilangkan kebiasaan berpikir seperti mesin dan membiasakan diri untuk berpikir secara kreatif.
(10)Keahlian pemahaman tentang tubuh
Keahlian ini menyangkut kemampuan memahami penampilan fisik sehingga menjadi pusat perhatian pendengar.
(11)Keahlian untuk melawan
Keahlian ini menyangkut kemampuan untuk mengenali dan menolak dorongan untuk bersikap terburu-buru, menahan diri, dan mengendalikan kesadaran.
(12)Keahlian vokal
Keahlian ini menyangkut kemampuan bagaimana membuat pita suara tetap santai, sehingga suara yang keluar tetap mengalir tanpa gangguan.
(13)Keahlian berimajinasi
Keahlian ini menyangkut kemampuan membayangkan dan memvisualisasikan urutan kejadian saat dari cerita yang dikembangkan dan kemampuan untuk belajar berbicara tanpa terlalu bergantung kepada catatan.
Henry Guntur Tarigan menyebut ciri-ciri pembicara yang ideal adalah sebagai berikut.